Benarlah prediksi banyak analisis ekonomi saat awal memasuki gerbang 2008. Perekonomian dunia, dan tentu saja berimbas ke dalam negeri, akan melambat. Gairah ekonomi yang terjadi pada 2006 dan separo 2007 tidak bakal terulang tahun ini. Namun, seberapa lambat laju pertumbuhan ekonomi itu, tentu antara satu Negara dengan Negara lain akan berbeda. Bergantung kemampuan serta daya tahan ekonomi Negara tersebut. Bagaimana dengan Indonesia ? pada hari selasa tanggal 20 mei 2008 kemarin Indonesia telah merayakan seabad (100 tahun) kebangkitan nasional sebagai harapan untuk sekarang maupun kedepannya bukan hanya pemerintahan saja tetapi bagi seluruh rakyat Indonesia untuk bangkit menjadi generasi baru yang memiliki nilai-nilai, ide-ide, inovasi dan kreatifitas sebagai paradigma sendiri tanpa dipengaruhi, tanpa meniru hal-hal yang pernah dilakkan oleh orang tua kita terdahulu dan tanpa meneruskan sikap dan tingkah laku orang-orang tua terdahulu.
Tetapi makna kebangkitan nasional menjadi suatu kebangkrutan nasional. Namun, kalau saya cermati, pada tahun 2008 ini merupakan kesejahteraan rakyat berubah paradigma menjadi kesengsaraan rakyat. Menengok sejenak pada memasuki gerbang tahun 2008 hingga saat ini banyak yang terjadi terkait dengan masalah-masalah Negara yang berdampak kepada masalah-masalah rakyat misalnya masalah pangan terkait dengan bahan pokok yang saat ini menjadi momok dan ancaman bagi semua rakyat khususnya rakyat miskin menyangkut hidup dan masa depannya yang semakin tidak jelas dan pemerintah pun hingga saat ini masih belum bisa mengatasi kemiskinan yang terjadi di Indonesia bahkan semakin berjamaah. Mengingat pemerintah mengimport kedelai dan dijual sangat mahal sekali kepada rakyat sehingga harga tempe juga mahal yang mengakibatkan rakyat miskin kesusahan dengan minimnya pendapatan dan tidak bisa makan. Kemudian rakyat dihadapkan pada kenaikan dan kelangkaan minyak tanah yang menimbulkan isu-isu bahwa kelangkaan tersebut di akibatkan karena pihak-pihak tertentu menimbun minyak tanah tersebut lalu pemerintah mengambil kebijakan dengan peralihan minyak tanah menjadi minyak gas yang bisa dijangkau untuk rakyat miskin dalam bentuk tabung yang berukuran 3kg tetapi hasil dan respon dari rakyat ternyata tidak dapat menyelasaikan masalah rakyat.
Jika ada survey menanyakan, mungkinkah harga BBM (bahan bakar minyak) tidak naik sampai hari kiamat, saya yakin, 99,99 persen responden akan menjawab tidak mungkin. Memang, harga bisa pada posisi turun, tetap, atau naik hal itu disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi dan posisi harga pun sifatnya sementara. Apalagi, minyak merupakan cadangan sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui. Itulah yang terjadi sekarang ini Indonesia lagi-lagi di guncang oleh prahara, sementara itu, perubahan harga minyak mentah dunia berubah setiap detik. Akibat lonjakan harga minyak dunia, anggaran Negara kedodoran. Sebab, selama ini pemerintah melaksanakan kebijakan subsidi untuk BBM nonindustri dalam negeri tetapi mempertahankan harga BBM subsidi seperti sekarang akan membengkakkan anggaran subsidi APBN. Namun, jika ingin mempertahankan besaran subsidi BBM dalam APBN, konsekuensinya harga BBM harus dinaikkan. Sebuah situasi yang sangat dilematis bagi pemerintah, baik secara ekonomi maupun politis.
Pemerintah telah mengambil kebijakan terhadap kenaikan BBM dan semua masalah-masalah yang terjadi, tetapi dampaknya bagi rakyat sangat mengenaskan sekali karena kalau saya cermati, rakyat semakin tidak berdaya. Kemudian pemerintah memberikan BLT (bantuan langsung tunai) kepada rakyat yang kurang mampu tetapi ada di daerah tertentu menolak BLT dari pusat kerena mereka menganggap bantuan pemerintah pusat tidak mendidik tetapi malah menimbulkan keruwetan. Adanya BLT malah membuat mereka malas dan membuat kisruh dan kecemburuan antar masyarakat, seharusnya program dampak kenaikan BBM tidak berupa BLT. Tetapi, pemberdayaan masyarakat atau padat karya program tersebut lebih mengena ketimbang bagi-bagi duit ala sinterklas. Namun, kalau saya cermati bahwa pemberian BLT tidak dapat menyelesaikan masalah bahkan tidak mengentaskan kemiskinan di Indonesia karena BLT sifatnya sementara dan nilai BLT sangat sedikit percuma BLT turun tetapi semua bahan pokok harganya melambung tinggi dan BLT tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya masyarakat kurang mampu. Saya menilai bahwa pemberian BLT bukan bantuan tetapi makna lain yaitu BLT (bantuan langsung tutup mulut) dari pemerintah untuk menyuap masyarakat agar mereka tidak protes terhadap kenaikan BBM dan sembako pangan yang mahal.
Kalau di telusuri masyarakat miskin di Indonesia sekarang semakin bertambah karena dampak dari kebijakan pemerintah yang kurang berkepihakan kepada rakyat. Kalau, saya cermati semakin banyak tindakan kriminal yang terjadi bahkan sampai ke tingkat keluarga. Sangat memprihatinkan sekali ketika melihat seorang anak di bunuh oleh ibu kandungnya sendiri karena impitan ekonomi yang berkepanjangan yang seorang bapak tidak memiliki pekerjaan tetap dan untuk makan sehari saja susah. Itulah masalah public yang berkepanjangan dan tidak tau kapan masalah ini berakhir atau mungkin jika orang-orang pengambil kebijakan mau mendengarkan rakyat miskin dan sadar bahwa posisi mereka adalah sebagai wakil mereka untuk menjunjung harkat, martabat dan kesejahteraan rakyat. Bukan sekedar duduk santai yang terlelap akan kekuasaan yang mementingkan keluarga tetapi bukan mementingkan kekeluargaan. Itulah kondisi yang terjadi di pemerintahan di Negara kita tercinta ini lalu akan dibawa kemana Negara ini, yang tahu hanya dihati dan pikiran kita bangsa Indonesia dan kapan akan sadar.